Kisah Anak Dengan Cerebral Palsy, Sekaligus Hafidz Al Quran Termuda di Indonesia dan Dunia


Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan berkesempatan untuk bertemu dengan Fajar Abdurokhim Wahyudiono, 11, bocah yang menjadi Hafiz Al-Qur'an 30 Juz pada usia 4,5 tahun meski menderita Cerebral Palsy atau lumpuh otak.

"Maafkan saya ya nak... maafkan pak Gubernur ya nak... Maafkan selama ini luput dari perhatian saya," demikian kata-kata yang keluar dari Kang Aher saat menjumpai Fajar di sela-sela menunaikan ibadah haji ke tanah suci, seperti dituliskan Hanny Kristianto di Facebook

Ini disesali Aher, karena Fajar aslinya adalah putra kelahiran kota Bandung 11 tahun yang lalu. Namun sejak 4 tahun terakhir harus berpindah ke Solo untuk menjalani terapi. Pulang ke tanah air, Fajar diundang ke Pakuan, kediaman Gubernur Jawa Barat bersama orang tua dan beberapa muallaf.

Keberadaan Fajar mulanya diketahui oleh Ustadz Yusuf Mansur pada Ramadhan kemarin. Ustadz YM sangat menyesal karena baru mengetahui keberadaan Fajar Abdurokhim, bocah penghafal Al-Qur'an dalam keadaan yang tidak normal.


"Kalau begini ceritanya, maka Fajar adalah penghafal Al Qur'an terkecil (termuda) di dunia, Masya Allah," ungkap Ustadz Yusuf, saat mengisi acara Tabligh Akbar (05 Juli 2015).

Sebelumnya diberitakan, pada musim haji tahun 2015 ini Fajar mendapat undangan khusus dari kerajaan Arab Saudi untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Pemerintah Arab Saudi memberikan undangan untuk Fajar, kedua orang tuanya dan dua orang pengasuh. Tidak hanya itu, Fajar diberi hadiah uang sebesar 200 dolar AS perbulan selama satu tahun.

Fajar adalah putra pasangan Heny Sulistiowati dan Joko Wahyudiono yang lahir pada tahun 2004 yang lalu. Dia lahir prematur pada usia kandungan 7,5 bulan dengan berat badan hanya 1,6 kilogram.

Sejak lahir kondisi Fajar sudah memprihatinkan. Katup jantungnya ada yang bocor dan menderita Cerebral Palsy, yaitu suatu kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, kemampuan berpikir. Penyakit ini menyebabkan seorang anak akan mengalami keterlambatan perkembangan.

Namun Heni dan suaminya bertekad memberikan yang terbaik untuk putranya. Dengan sabar ayahnya selalu membacakan Al Qur'an setengah juz pada pagi hari dan setengah juz pada malam hari sejak masih berada di inkubator.

"Kami berusaha untuk memberikan lingkungan yang terbaik untuknya. Di rumah saya dan suami sepakat memutarkan tilawah 24 jam agar dia selalu mendengar yang baik-baik saja tanpa terpikir dia akan hafal Al Quran" cerita Heni.

Di usianya yang ketiga, Fajar baru dapat berbicara namun yang keluar dari bibirnya seringkali berupa potongan-potongan ayat Al Qur'an. Pasangan tersebut lalu memanggil seorang guru untuk mengajarkan dan membimbing Fajar. Hasilnya Fajar hafal 30 juz Al Qura'n di usia 4,5 tahun dengan hafalan yang sangat kuat.

"Aku ingin menjadi Imam Masjidil Haram," jawab Fajar ketika ditanya apa cita-citanya. Dia pun berpesan dan berdoa agar seluruh masyarakat Indonesia semangat untuk menghafal Al Qur'an